Pesona Budaya Candi Sari

Bagi anda yang memilih kota Yogyakarta sebagai tujuan liburan anda maka pilihan anda sangat tepat. Yogyakarta selain dikenal sebagai kota pelajar juga menyimpan segudang tempat wisata yang benar – benar menarik. Tidak hanya Malioboro saja yang memiliki daya pikat wisata, namun wisata lain seperti wisaya budaya yang ada di Yogya juga tak kalah menariknya.
Seperti pada Candi Sari, candi yang terletak di dusun Bedan desa Tirto Martani Kecamatan Kalasan Kabupaten Sleman ini memiliki pesona yang menarik untuk dikunjungi. Candi bercorak Budha yang dibangun sekitar abad 8 Masehi ini masih berdiri dengan gagahnya. Dengan ukuran 17, 3 x 10 m dan berbentuk persegi panjang membuat Candi yang dahulunya digunakan sebagai tempat beribadat ini terlihat begitu megah.

Ukir – ukiran batu yang benar – benar luar biasa indahnya ada sejak jaman dahulu. Dan kini ukiran tersebut masih tergores jelas motif –motifnya. Berbeda dengan candi Borobudur atau Prambanan, Candi Sari hanya terdiri dari satu bangunan saja. Meski hanya satu bangunan saja namun wujudnya begitu besar. didalam ruang candi terdapat tiga ruang yang tak kalah besarnya. Selain itu terdapat pula relief Bodhisatwa, Kinara dan Kinari yaitu makhluk khayanagan yang bertubuh burung berkepala manusia serta arca Budha yang diapit oleh Bodhisatwayang semakin menambah indah candi.

Bagi anda yang menyukai hobi fotografi, tidak ada salahnya anda mencoba mengunjungi candi Sari ini. bangunan yang terlihat begitu bersejarah. Cukup dengan membayar retribusi sebesar Rp 2. 000 bagi dewasa dan Rp 1. 000 bagi anak – anak anda sudah dapat menikmati rasa sejarah dari candi Sari. Menarik bukan ?

Oleh : Esang Suspranggono

Iklan

Benda Bersejarah Di Museum Perjuangan Jogjakarta

Image

Jogjakarta yang terkenal dengan Kota pendidikan ini dan juga Kota budaya memang sudah melekat dihati masyarakat Jogja pada umumnya. Sejarah Kota Jogjakarta dari jaman penjajahan Belanda kini masih tersimpan dan di pelihara oleh pemerintah agar dapat terus dikenang bahkan perlu dilestarikan. Keragaman kota Jogjakarta dengan Kota budayanya memang tidak lain dari ciri khas Kota ini.

Berbagai tempat wisata budaya khususnya ada di Kota besar ini. Kurang lengkap jika liburan ke Jogja belum menyempatkan untuk berkunjung di tempat sejarah seperti museum Perjuangan, Museum Sandi, Monumen Jogja kembali, Benteng vredeburg dan masih banyak museum-musem yang ada di Kota Jogja ini. Salah satu museum yang masih mempunyai benda-benda sejarah yaitu museum Perjuangan. Museum ini terletak di Jalan Letkol. Sugiono
Brontokusuman, Yogyakarta. Harga tiket masuk hanya Rp.2000 dan diharapkan mengisi daftar pengunjung agar ada bukti bahwa terdapat antusias dari para pengungjung yang ingin melihat-lihat museum perjuangan. Museum ini adalah tempat dikumpulkanya benda-benda sejarah seperti  :

Miniature Kapal Belanda

Image

Sejarah miniature ini dulunya kapal yang dipake para pedagang belanda untuk mendarat di pelabuhan Banten 1596. Mereka dipimpin oleh cornelis de houtman berangkat dari tessel tahun 1595.

Radio Perjuangan

Image

Radio ini Merupakan Radio dari PTT Bandung yang besar perananya dalam penyiaran, penyiaran berita perjuangan ke penjuru dunia. Akibatnya posisi Belanda mulai terjepit dalam percaturan politik Internasional.

Patung Pahlawan

Image

Merupakan bentuk ukiran wajah mirip pahlawan jaman perjuangan sewaktu masih membela negara Indonesia. Kegigihan dan semangat juang dalam mempertahankan negara Indonesia untuk merdeka memang perlu kita contoh agar dalam diri kita terdapat jiwa kepahlawanan.

Oleh : Krisfian Tri Saputra

By Plesirwisata Posted in Museum

Keunikan Candi Bawah Tanah

Pernah berlibur ke candi? biasanya jika berlibur ke candi kita akan berjalan naik untuk menuju candi tersebut, tetapi candi yang satu ini berbeda. Terletak di bawah tanah, sehingga untuk mencapainya kesana kita harus menuruni dulu beberapa anak tangga.

Candi Sambisari adalah candi yang terletak menjorok ke bawah, akan terlihat unik dibanding candi-candi lainnya. Candi ini terletak di desa Sambisari, kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Tepatnya terletak disebelah barat candi Prambanan, kira-kira sekitar 5 km dari candi Prambanan.
Candi Sambisari pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani yang sedang mencangkul batu candi yang berukir. Setelah melalui penelitian, ternyata penemuan secara tidak sengaja tersebut merupakan bagian dari gugusan candi yang terpendam hingga kedalaman 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Tanah tersebut merupakan endapan lahar vulkanis dari gunung Merapi.

Candi ini terletak di tengah perkampungan warga. Luasnya lahan dan rerumputan yang hijau menambah daya tarik dari candi ini. Selain sebagai situs cagar budaya, Candi Sambisari ini biasanya juga digunakan untuk berfoto-foto karena memang pemandangannya sangat bagus meski berada di tengah kampung.

Candi Sambisari merupakan candi Hindu yang dibangun sekitar abad 9 masehi. Candi ini merupakan kelompok percandian yang terdiri dari sebuah candi induk dan tiga candi perwara di depannya. Candi induk menghadap ke arah barat dengan berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 13,65 m x 13,65 m dengan ketinggian 7,5m. Hal menarik dari candi induk adalah dijumpainya batu-batu pipih semacam umpak di sepanjang selasarnya. Batu-batu tersebut mempunyai tonjolan berbentuk bulan dan persegi.

Pada sisi luar tubuh candi induk terdapat relung-relung yang ditempati oleh beberapa arca yakni arca Durga (sisi utara), arca Ganesa (sisi timur), dan arca Agastya (sisi selatan). Di depan candi induk terdapat tiga buah candi perwara yang berukuran 4,8 x 4,8 m (sisi utara dan selatan) dan 4,9 x 4,8 m (perwara tengah). Secara keseluruhan komplek candi ini dikelilingi pagar dengan ukuran 50 x 48 m.

Sebagai fasilitas untuk pengunjung disediakan ruang informasi yang berisi mengenai sejarah penemuan candi Sambisari. Terdapat pula warung-warung kecil di samping candi, juga ada angkringan di depan candi. Pada sisi barat candi ini terdapat pula berjejer batu candi yang tidak bisa disusun sehingga hanya dipajang saja.

Tiket Masuk : Rp 2000 (Dewasa) dan Rp 1000 (Anak)
Parkir : Rp 1000

Oleh : Prihastoro S.K

Pantai Indrayanti yang Masih Alami

Tepat Pukul 05.15 WIB, tiba di Pantai Indrayanti, Tepus, Gunung Kidul, dengan pesona pantainya dan langit bewarna biru menyambut para pengunjung yang sudah ada sejak udara sejuk pagi menyapa. Udara di pagi hari terasa sangat sejuk dengan hembusan angin laut yang semakin menyegarkan badan ketika terbangun dari lelapnya tidur. Di pagi hari sudah tampak pengunjung penginapan Pantai Indrayanti yang terbangun untuk menunggu terbitnya matahari atau hanya sekedar bermain air biasa saja.

Penginapan di Pantai Indrayanti terbagi dua tempat, yang satu berdampingan dengan restoran Pantai Indrayanti dan yang satu lagi berada di belakang tepat Pantai Indrayanti. Penginapan yang unik bernama keong seharga Rp. 250.000/malam dan harga kamar di penginapan belakang Pantai Indrayanti seharga Rp. 300.000 – Rp 350.000/malam. Harga yang ditawarkan memang sangat terjangkau, dan seimbang dengan pesona alam dari Pantai Indrayanti yang masih bersih dan tidak banyak di kotori oleh tangan – tangan yang tiak bertanggung jawab.

Pantai Indrayanti mulai di kunjungi oleh banyak orang, sekitar pertengahan tahun 2009. Menurut salah satu pengelola parker di Pantai Indrayanti Arjo (35) mengatakan, sejak tahun 2009 para pengunjung mulai memenuhi area Pantai Indrayanti. “Sebelumnya, adanya resto dan penginapan ini, dahulu masih dipenuhi oleh alas (pepohonan). Listrik pun belum ada, dan orang pun jarang sekali lewat sini”, tambah bapak anak satu ini.

Pantai Indrayanti layaknya sebagai primadona baru sekarang ini. Banyaknya pengunjung yang datang ke Pantai Indrayanti, menjadi lahan bisnis baru bagi pedagang di sekitar pantai ini. Beberapa warung terlihat menghiasi jalanan depan Pantai Indrayanti. Sama seperti pantai – pantai yang lainnya yang memiliki pasir bewarna putih, pantai yang berada di sebelah timur Pantai Sundak ini mempunyai pesona tersendiri. Seperti tebing yang berada di sebelah barat pantai ini, memiliki tebing yang masih alami. Di dalam tebing tersebut terdapat celah yang dapat di masuki oleh 2-3 orang, terdapat sarang kepiting (yuyu), sesekali keluar dan ketika didekati mereka masuk kesarangnya. Eksotisme Pantai Indrayanti memang tak akan ada habisnya.

Rasa aman dan nyaman

Nyaman akan alaminya Pantai Indrayanti juga didukung oleh kenyamanan dari para rescue Pantai Indrayanti. Rescue dari Pantai Indrayanti sesekali turun ke pantai untuk mengecek dan berpatroli menggunakan motorboats. Rasa aman dan nyaman yang diberikan Pantai Indrayanti juga merupakan fasilitas yang di berikan oleh pengelola pantai Indrayanti. Pengunjung Pantai Indrayanti juga bisa menyewa motorboats seharga Rp. 100.000 untuk per jamnya. Selain itu, adanya resto di pinggir bibir pantai juga membuat magnet Pantai Indrayanti semkain kuat. Seperti liburan dan hari besar lainnya Pantai Indrayanti banyak dikunjungi oleh banyak wisatawan. “Ketika malam Tahun baru lalu, pengunjung pantai sini sangat banyak, mungkin seratus orang datang kesini. Hingga seperti alun – alun saja”, kata Arjo sembari melempar tawa.

[galle

ry]

Pesona alami Pantai Indrayanti memang harus terus dijaga, selain menjadi daya tarik wisatawan lokal. Jika, pantai Indrayanti dapat di jaga dan dilestarikan lebih lagi. Tak dapat dipungkiri, Yogyakarta akan mempunyai pesona pantai yang indah dan melebihi pesona pantai – pantai yang sudah ada sejak dahulu dan menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara.

oleh : Endy Oktavianto dan Kurnia Fatma Adwi

Ramahnya sang Dewi Kembar (Desa Wisata KembangArum)

Di Yogyakarta banyak sekali terdapat desa wisata yang dapat menjadi pilihan untuk dikunjungi oleh masyarakat Yogyakarta sendiri maupun wisatawan domestik dan laur negeri. Salah satu desa wisata yang menjadi tempat menarik utuk dikunjungi adalah Desa Wisata Kembang Arum yang terletak di Turi, Sleman, Yogyakarta.
Desa Wisata ini mempunyai julukan Dewi Kembar yang diambil dari kependekan nama desa wisata tersebut. Desa wisata ini hanyalah satu dari 42 desa wisata yang ada di kawasan Sleman, Yogyakarta. Menurut Heri (57), selaku pengelola desa wisata mengatakan, di Sleman, terdapat 42 desa wisata, akan tetapi yang aktif hanya 38 desa wisata saja.

Desa Wisata yang berdiri sejak 27 Juli 2005 ini, mempunyai konsep tradisional Jawa, konsep tradisional jawa terlihat dari penataan struktur bangunan yang berdampingan dengan sungai dan persawahan. Selain itu, suasana Jawa sangat terasa ketika semua bangunan ini mempunyai konsep bangunan joglo dan banyak dihiasi oleh lukisan – lukisan maupun karya seni pewwayangan.
Selain suasana Jawa yang kental di Dewi Kembar, fasilitas – fasilitas yang sangat memanjakan para pengunjung adalah adanya fasilitas outbond, flying fox, menangkap ikan, bermain kelinci, tracking, bertenak kambing, permaina tradisional, meeting room, dan adanya home stay. Akan tetapi, terdapat fasiltas yang unik disini, yaitu adanya fasilitas belajar melukis, panen salak, pertunjukan jathilan, jajanan pasar tradisional, bajak sawah, pijat kolosal, kuliner tradisional, dan kolam renang alam.
Selain fasilitas – fasilitas diatas, fasilitas tambahan jika pengunjung akan bermalam di Dewi Kembar. Adanya kulier tradisional yang unik dari Dewi Kembar adalah adanya ikan bakar saus salak, sambel salak, oseng – oseng salak yang diciptakan sendiri oleh Heri. “Dewi Kembar mempunyai maskaan yang unik dan pernah menjadi juara satu dalam perlombaan masak pada tahun 2011 lalu yaitu makanan yang berbahan dasar dari salak”, jelas seorang pelaku seniman ini.

Desa Wisata Kembang Arum ini memiliki suasana yang sangat ramah dan tenang, warga sekitar juga mempunyai keramahan yang sangat menyenangkan. Udara yang sejuk dan di iringi oleh musik alam yang berasal dari suara air mengalir membuat para pegunjung betah untuk bermalam di Dewi Kembar ini. “Dewi Kembar ini selain menjual fasilitas – fasilitas yang memanjakan para pengunj
ung, kami juga menjual keramahan para warga Desa Wisata Kembang Arum disini”, jelas bapak tiga anak ini.
Desa Wisata yang sering menjuarai beberapa kategori ini juga menyediakan mushola bagi pengunjung yang ingin beribadah. Pemancingan dan alat bakar juga disediakan di desa wisata ini. Selain itu, kursus melukis, memasak maupun kursus make-up artis juga menjadi fasilitas yang menarik bagi pengunjung desa wisata ini. “Dewi Kembar juga meneyediakan kursus melukis, memasak, make – up artis dan juga jika ada pengunjung yang ingin memesan Joglo, kami bisa melayani dnegan senang hati”, ucap pria yang suka menari ini.


Desa wisata turi ini terletak di desa Donokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta. Jika ingin mengunjungi desa wisata ini, dapat menghubungi 0274-7160041 atau 0858.68.33.44

oleh : Endy Oktavianto

Ngobaran Serasa di Bali

Siapa yang tidak kenal dengan Bali ? Pulau yang terkenal dengan sebutan Pulau Dewata tersebut memiliki keindahan alam yang memukau. Salah satunya adalah pantai yang elok di sertai dengan pura yang menghiasinya. Pantai yang favorit para wisatawan baik local maupun mancanegara tersebut karena pantainya berpasir putih serta bernuansa Hindhu. Suasana tersebut dapat anda juga rasakan tanpa harus ke Bali. Karena di Yogyakarta ada sebuah pantai yang seperti halnya pantai di Bali.

Ngobaran, sebuah pantai yang benar – benar memukau dengan hamparan pantai putih. Terletak di daerah Gunung Kidul Yogyakarta ini memiliki sensasi serasa di Bali. Perjalanan yang dapat di tempuh satu jam dari arah selatan ini tidak akan membuat anda bosan. Jalur pegunungan yang naik turun sehingga kita dapat melihat pemandangan Bantul dari atas. Selain itu anda juga akan melihat bagaimana keadaan orang – orang di daerah pegungungan yang membuat anda berpikir ternyata masih ada suasana pedesaan yang masih kental terasa. Untuk menuju Ngobaran anda tidak perlau takut tersesat sebab jalan yang dilalui tidak terlalu rumit. Disamping itu petunjuk jalan juga telah ada di pasang di berbagai titik sehingga memudahkan para wisatawan yang akan mengunjunginya.

Sebelum sampai di pantai, sekitar satu kilometer dari lokasi anda akan diminta membayar pajak masuk sebesar Rp 3.000 . Setelah itu anda dapat melanjutkan perjalanan lagi dan Ini dia sebuah pantai yang indah dengan hamparan pasir putih yang Indah.

Pantai yang menyerupai layaknya pantai – pantai di Bali ini memiliki keindahan alam yang memukau. Diapit tebing yang menjulang menambah keindahan alam Ngobaran yang berada di desa Kanigoro ini. Ditambah hamparan pasir yang berwarna putih membuat pantai ini menjdi berbeda dengan pantai yang berad di daerah Yogyakarta lainnya seperti Bantul. Ketika anda sampai pada pintu masuk pantai ini anda akan merasakan sensasi budaya Hindhu dengan adanya gapura masuk.

Terlebih ketika anda telah sampai pada pelataran parkir kendaraan anda benar – benar akan dibuat seakan ini bukan Gunung Kidul Yogyakarta. Banyaknya patung yang bercorak Hindhu seperti patung Ganesha dan pelataran yang bernuansa Hindhu membuat pantai ini mempunyai ciri khas dibanding yang lain.

Tempat yang seakan dibentuk menjadi tempat untuk melakukan upacara agama Hindhu ini menjadi lebih menarik dengan latar belakang birunya laut pantai. Keindahan akan tata letak patung yang begitu indah menjadikan pantai ini wajib anda kunjungi. Ketika anda melihatkan pandangan ke atas anda akan melihat sebuah bangunan yang menyerupai pura berdiri di atas bukit.

Bila anda penasaran ingin menuju bangunan yang seperti pura ini, anda dapat mencapainya dengan berjalan kaki. Tidak terlalu susah mencapainya karena jalan menuju ke atas bukit pun telah disediakan. lagi – lagi anda akan dibuat kagum dengan keadaan di atas bukit. Anda dapat melihat laut yang berwarna biru dari atas, melihat tempat berdirinya patung – patung hindhu, serta anda bisa melihat betapa hijaunya sawah negeri kita.

Bagi anda pecinta dunia foto – foto panatai Ngobaran juga bisa dijadikan sebagai obyek foto anda. Mulai dari angel bawah hingga atas serta dari obyek patung hingga hamparan pasir putih yang luas dapat anda tangkap. Jadi tidak ada salahnya anda mencoba untuk mengunjungi Bali nya Gunug Kidul Yogyakarta.

oleh : Esang Suspranggono

Pesona Taman Buah Mangunan

Taman buah Mangunan merupakan agro wisata yang terletak di Yogyakarta tepatnya di daerah Imogiri Bantul. Perjalanan kurang lebih memakan waktu sekitar satu jam dari kota Yogyakarta. Tempat wisata tersebut merupakan penangkaran tanaman penghasil buah seperti, rambutan, mangga, jambu dan masih banyak lagi jenis tanaman lain yang dapat dijumpai di taman buah Mangunan.
Perjalanan menuju wisata agro melewati perbukitan terjal yang ada di sepanjang jalan selain itu, tanjakan dan jalan yang berkelok-kelok menambah keasrian alam Mangunan. Sebelum sampai ke tujuan wisata sejenak kita melewati makam Raja Imogiri yang menyimpan sejuta nilai budaya dan kesakralan yang masih di junjung tinggi oleh masyarakat Yogyakarta.
Taman buah Mangunan juga memiliki sejuta pesona keindahan alam, karena letaknya yang berada di perbukitan kita dapat melihat keindahan panorama di gardu pandang yang sengaja di sediakan untuk para pengunjung Taman buah mangunan. Monyet merupakan fauna yang dilestarikan di daerah ini. Hewan tersebut berkoloni dengan jumlah yang cukup banyak dapat diliat di pagi hari dan waktu senja. Pemandangan yang indah akan dijumpai di sekeliling gardu pandang. Terdapat sungai yang menyerupai ular raksasa apabila dilihat dari kejauhan selain itu, kita dapat memantau keadaan mangunan dan daerah sekitarnya.
Dengan area tanah yang cukup luas Mangunan juga digunakan sebagai bumi perkemahan dan camping yang dilakukan mahasiswa maupun para pelajar. Mangunan sangat berpotensi untuk di jadikan kawasan wisata alam.

oleh : Kurnia Fatma Adwi

Keindahan Goa Air Gunung Kidul

Desa Bejiharjo adalah salah satu desa wisata yang saat ini baru popular dikunjungi banyak orang. Terdapat berbagai wahana wisata seperti pantai, gua, dan air terjun di Gunung Kidul. Sebelumnya daerah Gunung Kidul memang terkenal dengan pantai selatannya namun sekarang ini sudah mulai bermunculan tempat wisata yang menarik minat wisatawan. Gua Pindul namanya, dibuka sekitar 5 bulan yang lalu setelah disetujui oleh pemerintah daerah guna pemberdayaan masyarakat.
Banyak orang berbincang dengan keadaan di Gunung Kidul mengenai masalah kekeringan dan kekurangan air. Namun saat ini Gunung Kidul sudah selangkah lebih maju dari pada tahun-tahun sebelumnya. Program pemerintah dalam pembuatan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) sangat direspon oleh banyak masyarakat dan kini kesejahteraan masyarakat Gunung Kidul dilengkapi dengan daerah –daerah wisata yang unik. Keunikan yang tak ternilai harganya ada pada desa wisata ini membuat perekonomian khususnya daerah wonosari memulai membaik.
Pengelolaan desa wisata gunung kidul khususnya di gua pindul ini juga tidak terlepas dari peran pemerintah. Berbagai fasilitas-fasilitas seperti pelampung berstandar SNI, juga sudah diberikan agar tercipta rasa aman bagi para pengunjung. Tidak hanya itu saja pemerintah membuka lapangan pekerjaan ini bermaksud untuk merubah kehidupan bagi masyarakat gunung kidul yang belum memiliki pekerjaan.

Secuil Kisah di Gua Pindul

Gua Pindul ini terletak di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, 10 Km dari arah timur laut Wonosari. Konon katanya nama Gua Pindul berasal dari kisah Joko Singlulung yang mencari bapaknya dengan melewati hutan, sungai, dan gua. Dalam pengembaraanya ia telah melewati 7 gua yang ada aliran sungainya, karena didalam gua sangat akhirnya Joko terbentur batu besar. Oleh karena itu tempat Joko terbentur diberi nama Gua Pindul (terbentur).
Jarak tempuh dari kota Jogja ke Gua Pindul hanya membutuhkan waktu kurang lebih 90menit. Perjalanan dimulai dari jalanan datar hingga curam dan terjal, namun itu semua bisa terobati jika sudah sampai tempat wisata tersebut. Sambutan hangat dari para warga masyarakat khususnya para pengelola tempat wisata Dusun Gelaran ini. Sapa dan salam menjadi ciri khas dari masyarakat tersebut dan ada salah seorang pemandu yang akan menjelaskan perjalanan mana saja sesuai keinginan pengunjung.
Ada beberapa tempat seperti Gua Pindul, Rafting Oyo, dan Gua si Oyot. Tarifnya pun bermacam-macam, Harga tiket masuk Gua Pindul Rp 25.000, Gua Si Oyot dan Rafting Oyo Rp. 35.000, semua harga tersebut sudah termasuk bonus wedang jahe. Sebelum masuk ke obyek wisata para wisatawan akan diberi bekal seperti pelampung, ban. Setelah perlengkapan seperti pelampung, ban, dan sandal sudah terpakai lalu briefing sejenak untuk keselamatan para pengunjung. Pemandu menjelaskan jalan yang akan ditempuh dan barang bawaan pengunjung akan dijamin aman. Rasa aman tersebut menambah daya tarik dari para pengunjung.
Sebelum memasuki Gua Pindul pengunjung diharapkan untuk berdoa sejenak dan dilarang berbicara kotor didalam gua, selain itu jika ada pengunjung yang sedang berhalangan (datang bulan) dilarang memasuki lingkungan Gua Pindul. Pengunjung pun juga harus berjalan sekitar 50 meter untuk menuju gua, pemandu menjelaskan jika didalam Gua Pindul terdapat zona terang, remang-remang dan gelap. Terdapat juga batu Stalaktit dan Stalagmit dengan warna putih yang menyerupai kristal serta ada batu yang ditabuh dapat berbunyi seperti gong. Di dalam Gua PIndul juga terdapat batu yang sangat menarik, yaitu batu perkasa yang konon ketika para pengunjung pria menyentuh batu tersebut maka keperkasaan lelaki dewasa akan meningkat. Di bagian langit sisi tepi Gua pindul terdapat tetesan air yang dipercaya dapat membuat pengunjung wanita menjadi awet muda ketika terkena tetesan air tersebut. Selain itu, juga terdapat penghuni tetap Gua Pindul, kekelawar pemakan serangga dan pemakan buah. (Sudah di buat juga sarang burung walet, namun urung dilanjutkan, karena burung walet enggan membuat sarang disebabkan hawa panas dari atas gua).
Zona gelap sudah dilewati dan disambut dengan zona terang dengan lingkaran kecil penuh cahaya dari atas gua. Setelah melewati gua pindul akan ditantang oleh pemandu siapa diantara pengunjung yang berani berenang dan melompat dari ketinggian delapan meter. Pengunjung yang sudah lelah berenang dan melompat kemudian kembali ke sekertariat untuk menikmati wedang jahe yang sudah disediakan oleh sekertariat.

oleh : Krisfian Tri Saputra

Eksotisme Kali Biru

Kalibiru adalah obyek wisata baru di daerah Yogyakarta. Letaknya di sebelah barat wilayah kota Jogja ini, tepatnya di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Obyek wisata ini bisa dibilang baru karena berdiri sejak tahun 2009 atas dasar pemikiran warga setempat untuk mengembangkan obyek wisata di daerah Kulon Progo. Kalibiru didirikan secara swasembada oleh kelompok Tani Mandiri warga setempat. Mayoritas penduduk disini adalah petani yang menanam cengkeh, jagung, tela, dan palawija.
Jika anda berkunjung ke Kalibiru jangan harap dapat menemukan kali (sungai) yang berwarna biru, karena nama Kalibiru adalah nama dusun dari daerah tersebut. Kalibiru terletak di daerah pegunungan dengan pemandangan alam yang elok nan menakjubkan. Dari puncak Kalibiru bisa terlihat Waduk Sermo secara utuh dan pemandangan kota Wates dari atas bukit. Kalibiru sendiri merupakan kawasan wisata alam hutan kemasyarakatan, jadi disini terdapat berbagai macam pohon yang rindang dan gardu pandang untuk menikmati alam sekitar dari atas bukit.
Untuk mencapai obyek wisata alam ini dapat melewati Godean kemudian Nanggulan lalu menuju Pengasih dan melewati daerah Clereng. Bisa juga melewati Waduk Sermo namun jika lewat Waduk Sermo kita akan membayar bea masuk dua kali, yakni biaya masuk Waduk Sermo dan biaya masuk kalibiru. Dari kota Jogja kira-kira sekitar 2 jam perjalanan. Fasilitas yang ditawarkan obyek wisata kalibiru ini antara lain Outbound Center, Pondok Wisata, Joglo Pertemuan, Perpustakaan, Gardu Pandang, Jalur Trekking, Home Stay dan Flying Fox. Untuk biaya masuk sangat murah hanya Rp 2000. Terdapat lima home stay dan empat gardu pandang bagi para pengunjung.
Disini terdapat juga dua warung yang menjajakan makanan dan minuman bagi para pengunjung. Biasanya Joglo dan Home Stay disini disewa oleh mahasiswa atau anak sekolahan untuk mengadakan makrab. Satu home stay dapat menampung 15 orang didalamnya. Jalan setapak untuk mendaki sampai puncak Kalibiru sudah tertata rapi dengan di-conblock, jadi tidak perlu takut jika ingin menyusuri Kalibiru hingga Gardu Pandang paling tinggi. Keramahan penduduk menyambut pengunjung datang juga merupakan nilai tambah dari obyek wisata ini.

Biaya :
• Masuk : Rp 2000
• Parkir : Rp 1000
• Home Stay : Rp 125.000 per hari
• Joglo : Rp 150.000 per hari
• Flying Fox : Rp 10.000

oleh : Prihastoro Suryo Kuncoro

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.